Diksi atau
Pilihan Kata dalam Bahasa Indonesia
Diksi atau
pilihan kata adalah pemilihan kata – kata yang sesuai dengan apa yang hendak
kita ungkapkan. Diksi atau Plilihan kata mencakup pengertian kata – kata
mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk
pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan
gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
Pemilihan kata mengacu pada pengertian
penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih dan digunakan oleh
pengarang. Mengingat bahwa karya fiksi (sastra) adalah dunia dalam kata,
komunikasi dilakukan dan ditafsirkan lewat kata-kata. Pemilihan kata-kata
tentunya melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk mendapatkan efek yang
dikehendaki (Nurgiyantoro 1998:290).
1. Kata-kata denotatif dan konotatif.
a. Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya yang sama
dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat faktual. Makna pada
kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan makna.
Contoh kata denotatif :- Membicarakan
- Memperlihatkan
- Penonton
b. Makna konotasi adalah makna yang bukan sebenarnya yang
umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami
penambahan.
Contoh kata konotatif :- Membahas, mengkaji
- Menelaah, meneliti, menyelidiki
- Pemirsa, pemerhati
2. Kata umum dan kata khusus
a. Makna umum adalah makna yang memiliki ruang lingkup
cakupan yang luas dari kata yang lain.
b. Makna khusus adalah makna yang memiliki ruang lingkup
cakupan yang sempit dari kata yang lain.
Contoh kata umum dan kata khususKata umum Kata khusus
- Ikan - Gurame, Lele, Sepat, Tuna, dll.
- Bunga - Mawar, Melati, Anggrek, dan Dahlia
3. Kata makna bersinonim
Kata bersinonim adalah kata yang bentuknya
berbeda namun pada dasarnya memiliki makna yang hampir mirip atau serupa. Dalam
penggunaan kata besinonim harus memilih kata yang tepat dalam kalimat
ragam formal. Karena meskipun bersinonim pada dasarnya memiliki perbedaan dalam
konteks penggunaannya.Contoh kata bersinonim :
- Cerdas = Cerdik, Hebat, Pintar.
- Besar = Agung, Raya
- Mati = Mangkat, Wafat, Meninggal
- Ilmu = Pengetahuan
- Penelitian = Penyelidikan
4. Kata baku dan
non-baku
Kata baku dan non-baku dapat dilihat
berdasarkan beberapa ranah seperti :
a. Ranah finologis
Kata baku yang memiliki kata non-baku karena
:- Penambahan fonem
Kata baku Kata non baku
Imbau Himbau
Andal Handal
Utang Hutang
- Pengurangan fonem
Kata baku Kata non-baku
Terap Trap
Terampil Trampil
Tetapi Tapi
Tidak Tak
- Pengubahan fonem
Kata baku Kata non-baku
Telur Telor
Ubah Obah
Tampak Nampak
5. Dalam
penggunaan kata depan dan kata penghubung harus digunakan secara tepat,
yang sesuai dengan jenis keterangan dalam jenis kalimat :
a. Untuk keterangan tempat di gunakan kata di, ke, dari,
di dalam, pada.
b. Untuk keterangan waktu digunakan kata pada, dalam,
setelah, sebelum, sesudah, selama.
c. Untuk keterangan alat di gunakan kata dengan.
d. Untuk keterangan tujuan digunakan kata agar, supaya,
untuk, bagi, demi.
e. Untuk keterangan cara digunakan kata dengan, secara,
dengan cara, dengan jalan.
f. Untuk keterangan penyerta di gunakan kata dengan,
bersama, beserta.
g. Untuk keterangan perbandingan atau kemiripan digunakan
kata seperti, bagaikan,laksana.
6. Penulisan
kata secara benar
Dalam kalimat ragam formal, harus menuliskan
kata secara benar seperti :- Penulisan kata depan di yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
- Penulisan kata depan ke yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
- Penulisan kata depan dari yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
Selain kesalahan penulisan kata depan (preposisi), sering pula kesalahan sebagai berikut :
- Penulisan partikel non seperti pada contoh :
Penulisan yang benar Penulisan yang salah
Non-Indonesia Non Indonesia
Non-batak Non batak
Nonformal Non formal, non-formal
- Penulisan partikel sub seperti pada contoh :
Penulisan yang benar Penulisan yang salah
Subbab Sub bab, Sub-bab
Subbagian Sub bagian, Sub-bagian
- Penulisan pertikel per seperti pada contoh :
Penulisan yang benar Penulisan yang salah
per jam Perjam
per bulan Perbulan
per tahun Pertahun
- Penulisan kata per
Kata per yang memiliki arti ‘menjadikan lebih’ atau memperlakukannya sebagai’
Penulisan yang benar Penulisan yang salah
Perbesar Per besar
Persingkat Per singkat
Dalam bahasa indonesia, kata “ pun “ yang mempunyai arti :
”juga” harus di tuliskan secara terpisah dengan kata yang di ikutinya
Penulisan yang benar Penulisan yang salah
Aku pun Akupun
Sedikit pun Sedikitpun
Kata pun pada kata tertentu yakni ungkapan yang sudah padu harus di tuliskan serangkai dengan kata yang diikutinya.
Penulisan yang benar Penulisan yang salah
Meskipun Meski pun
Bagaimanapun Bagaimana pun
Dalam kata pasca, bentuk terikat pasca di tulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Penulisan yang benar Penulisan yang salah
Pascasarjana Pasca sarjana, Pasca-sarjana
Pascapanen Pasca panen, Pasca-panen
Selain itu dalam penulisan awalan tertentu, seperti :
Penulisan yang benar Penulisan yang salah
Betolak belakang Betolaktolang
Mendarah daging Mendarahdaging
7. Homonim,
Homofon, Homograf
a.
Homonim
Homo artinya sama, nym berarti nama, jadi
homonim adalah sama nama, sama bunyi tetapi beda makna, contoh : bandar sama
dengan pelabuhan, dan dan pemegang uang dalam perjudian.
b. Homofon
Bunyi atau suara yang mempunyai sama, berbeda
tulisan dan berbeda makna contoh :Bank : tempat menyimpan uang
Bang : panggilan untuk kakak laki-laki
c. Homograf
Sama tulisan, berbeda bunyi dan berbeda makna,
contoh :
·
Ular kobra itu
bisanya mematikan.
·
Aku bisa
memastikan ayah tidak akan marah jika aku telat pilang karena latihan.
8.
Kata abstrak dan kata konkrit
Kata abstrak berupa konsepContoh : kebenaran pendapat itu begitu meyakinkan.
Kata kponkrit berupa objek yang dapat diamati
Contoh : angka kelulusan SMA tingkat sumatera barat mengalami kenaikan hingga sembilan persen. Membicarakan membahas, mengkaji.
9. Penentuan
batas kata
Dalam ilmu linguistik barat ada minimal lima
cara dalam menentukan batas-batas kata:
a. Pada jeda
Seorang pembicara disuruh untuk mengulang kalimat yang diberikan secara pelan, diperbolehkan untuk beristirahat dan mengambil jeda. Sang pembicara maka akan cenderung memasukkan jeda pada batas-batas kata. Namun metoda ini tidaklah sempurna: sang pembicara bisa dengan mudah memilah-milah kata-kata yang terdiri dari banyak suku kata.
Seorang pembicara disuruh untuk mengulang kalimat yang diberikan secara pelan, diperbolehkan untuk beristirahat dan mengambil jeda. Sang pembicara maka akan cenderung memasukkan jeda pada batas-batas kata. Namun metoda ini tidaklah sempurna: sang pembicara bisa dengan mudah memilah-milah kata-kata yang terdiri dari banyak suku kata.
b. Keutuhan
Seorang pengguna disuruh untuk mengucapkan sebuah kalimat secara keras dan lalu disuruh untuk mengucapkannya lagi dan ditambah beberapa kata.
Seorang pengguna disuruh untuk mengucapkan sebuah kalimat secara keras dan lalu disuruh untuk mengucapkannya lagi dan ditambah beberapa kata.
c. Bentuk bebas minimal
Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Leonard Bloomfield. Kata-kata adalah leksem, jadi satuan terkecil yang bisa berdiri sendiri.
Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Leonard Bloomfield. Kata-kata adalah leksem, jadi satuan terkecil yang bisa berdiri sendiri.
d. Batas fonetis
Beberapa bahasa mempunyai aturan pelafazan khusus yang membuatnya mudah ditinjau di mana batas kata sejatinya. Misalnya, di bahasa yang secara teratur menjatuhkan tekanan pada suku-kata terakhir, maka batas kata mungkin jatuh setelah masing-masing suku-kata yang diberi tekanan. Contoh lain bisa didengarkan pada bahasa yang mempunyai harmoni vokal (seperti bahasa Turki): vokal dalam sebagian kata memiliki "kualitas" sama, oleh sebab itu batas kata mungkin terjadi setiap kali kualitas huruf hidup berganti. Tetapi, tidak semua bahasa mempunyai peraturan fonetis seperti itu yang mudah, kalaupun iya, pada bahasa ini ada pula perkecualiannya.
Beberapa bahasa mempunyai aturan pelafazan khusus yang membuatnya mudah ditinjau di mana batas kata sejatinya. Misalnya, di bahasa yang secara teratur menjatuhkan tekanan pada suku-kata terakhir, maka batas kata mungkin jatuh setelah masing-masing suku-kata yang diberi tekanan. Contoh lain bisa didengarkan pada bahasa yang mempunyai harmoni vokal (seperti bahasa Turki): vokal dalam sebagian kata memiliki "kualitas" sama, oleh sebab itu batas kata mungkin terjadi setiap kali kualitas huruf hidup berganti. Tetapi, tidak semua bahasa mempunyai peraturan fonetis seperti itu yang mudah, kalaupun iya, pada bahasa ini ada pula perkecualiannya.
e. Satuan semantic
Seperti pada banyak bentuk bebas yang minimal yang disebut di atas ini, metode ini memilah-milah kalimat ke dalam kesatuan-kesatuan semantiknya yang paling kecil. Tetapi, bahasa sering memuat kata yang mempunyai nilai semantik kecil (dan sering memainkan peran yang lebih gramatikal), atau kesatuan-kesatuan semantik yang adalah kata majemuk.
Dalam prakteknya, para ahli bahasa
menggunakan campuran semua metode ini untuk menentukan batas kata dalam
kalimat. Namun penggunaan metode ini, definisi persis kata sering masih sangat
sukar ditangkap.Seperti pada banyak bentuk bebas yang minimal yang disebut di atas ini, metode ini memilah-milah kalimat ke dalam kesatuan-kesatuan semantiknya yang paling kecil. Tetapi, bahasa sering memuat kata yang mempunyai nilai semantik kecil (dan sering memainkan peran yang lebih gramatikal), atau kesatuan-kesatuan semantik yang adalah kata majemuk.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar