Senin, 27 Oktober 2014

KALIMAT DASAR BAHASA INDONESIA



 IMG_20140915_091322

Kalimat Dasar Bahasa Indonesia

Dalam menuliskan kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar maka kita harus ketahui unsur-unsur yang biasanya dipakai dalam sebuah kalimat. Dalam bahasa Indonesia digunakan aturan SPO atau SPOK (Subjek, Predikat, Objek atau Subjek, Predikat, Objek, Keterangan).
Berikut beberapa unsur kalimat.

1) Subyek (S)
·         Disebut juga pokok kalimat, karena merupakan unsur inti suatu kalimat.
·         Umumnya berupa kata benda (KB) atau kata lain yang dibendakan.
·         Merupakan jawaban dari pertanyaan “Siapa” atau “Apa”.
·         Contoh :
o Luthfi adalah seorang pelajar di UIN SGD Bandung.
o NOAH adalah salah satu band besar di Indonesia.
2) Predikat (P)
·         Unsur inti pada kalimat yang berfungsi menjelaskan subyek.
·         Biasanya berupa kata kerja (KK) atau kata sifat (KS).
·         Merupakan jawaban dari pertanyaan “Mengapa” dan “Bagaimana”.
·         Contoh :
o Van Persie bermain dengan baik.
o Dia pelari tercepat di Indonesia.
3) Objek (O)
·         Keterangan predikat yang memiliki hubungan erat dengan predikat.
·          Biasanya terletak di belakang predikat.
·          Dalam kalimat pasif, objek akan menempati posisi subyek.
·         Ada dua macam objek, yaitu :
o Objek Penderita : kata benda atau yang dibendakan baik berupa kata atau kelompok kata yang merupakan sasaran langsung dari perbuatan atau tindakan yang dinyatakan oleh subyek.
Makna objek penderita :
a. Penderita
Contoh : Dia memukul-mukul tembok.
b. Penerima
Contoh : Luthfi memakai celana saya.
c. Tempat
Contoh : MU akan datang ke Indonesia.
d. Alat
Contoh : Pak Guru melempar penghapus ke arah dia.
e. Hasil
Contoh : Dia membuat patung Kuda.
o Objek Penyerta : objek yang menyertai subjek dalam melakukan atau mengalami sesuatu.
Makna objek penyerta :
a. Penderita.
Contoh : Andi memberikan Dewi bunga mawar.
b. Hasil.
Contoh : Dia membelikan orangtuanya rumah.

4) Keterangan (K)
·         Hubungannya dengan predikat renggang.
·          Posisinya dapat di awal, tengah, ataupun akhir kalimat.
·         Terdiri dari beberapa jenis :
o Keterangan Tempat
Contoh: NOAH akan mengadakan konser di Singapore.
o Keterangan Alat
Contoh: Abah memetik buah menggunakan tongkatnya.
o Keterangan Waktu
Contoh: Sinta akan tiba di Bandung pukul 12.00 WIB.
o Keterangan Tujuan
Contoh: Kita harus rajin berolahraga agar sehat.
o Keterangan Cara
Contoh: Mereka memperhatikan koreo dengan seksama.
o Keterangan Penyerta
Contoh: Luthfi pergi bersama Robeey.
o Keterangan Similatif
Contoh: Budi memberikan arahan kepada pemain sebagai pelatih.
o Keterangan Sebab
Contoh: Dia sangat sukses sekarang karena giat bekerja.

5) Pelengkap (Pel.)
·         Terletak di belakang predikat.
·         Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subyek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap.
·         Contoh :
o Kibum memberikanku novel bagus.
o Hangeng menghadiahkan orangtuanya restoran baru.
o Mahkota itu bertahtakan mutiara.
Pola Dasar Kalimat Bahasa Indonesia
Kalimat yang kita gunakan sesungguhnya dapat dikembalikan ke dalam sejumlah kalimat dasar yang sangat terbatas. Dengan perkataan lain, semua kalimat yang kita gunakan berasal dari beberapa pola kalimat dasar saja. Sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing, kalimat dasar tersebut kita kembangkan, yang pengembangannya itu tentu saja harus didasarkan pada kaidah yang berlaku.
Berdasarkan keterangan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa kalimat dasar ialah kalimat yang berisi informasi pokok dalam struktrur inti, belum mengalami perubahan. Perubahan itu dapat berupa penambahan unsur seperti penambahan keterangan kalimat ataupun keterangan subjek, predikat, objek, ataupun pelengkap. Kalimat dasar dapat dibedakan ke dalam delapan tipe sebagai berikut.

1) Kalimat Dasar Berpola S P
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek dan predikat. Predikat kalimat untuk tipe ini dapat berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, atau kata bilangan. Misalnya:
o Mereka (S) sedang bekerja (P).
o pamannya (S) pemain bola (P).

2) Kalimat Dasar Berpola S P O
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan objek. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba transitif, dan objek berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:
Mereka (S) sedang menyusun (P) strategi penyerangan (O).

3) Kalimat Dasar Berpola S P Pel.
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan pelengkap. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, dan pelengkap berupa nomina atau adjektiva. Misalnya:
Budi (S) beternak (P) ayam (Pel.).

4) Kalimat Dasar Berpola S P O Pel.
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan pelengkap. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan pelengkap berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:
Dia (S) mengirimi (P) saya (O) surat (Pel).

5) Kalimat Dasar Berpola S P K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan harus memiliki unsur keterangan karena diperlukan oleh predikat. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
Mereka (S) berasal (P) dari Surabaya (K).

6) Kalimat Dasar Berpola S P O K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nomina, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
Kami (S) memasukkan (P) pakaian (O) ke dalam lemari (K).

7) Kalimat Dasar Berpola S P Pel. K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, pelengkap, dan keterangan. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, pelengkap berupa nomina atau adjektiva, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya :
Ungu (S) bermain (P) musik (Pel.) di atas panggung (K).

8) Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, pelengkap berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
Dia (S) mengirimi (P) ibunya (O) uang (Pel.) setiap bulan (K).

Selasa, 14 Oktober 2014

DIKSI atau PILIHAN KATA




 IMG_20140915_091322
Diksi atau Pilihan Kata dalam Bahasa Indonesia 
Diksi atau pilihan kata adalah pemilihan kata – kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Diksi  atau Plilihan kata mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
Pemilihan kata mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih dan digunakan oleh pengarang. Mengingat bahwa karya fiksi (sastra) adalah dunia dalam kata, komunikasi dilakukan dan ditafsirkan lewat kata-kata. Pemilihan kata-kata tentunya melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk mendapatkan efek yang dikehendaki (Nurgiyantoro 1998:290).

1.     Kata-kata denotatif dan konotatif.
a.     Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya yang sama dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat faktual. Makna pada kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan makna.
Contoh kata denotatif :
- Membicarakan
- Memperlihatkan
- Penonton
b.     Makna konotasi adalah makna yang bukan sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan.
Contoh kata konotatif :
-  Membahas, mengkaji
- Menelaah, meneliti, menyelidiki
- Pemirsa, pemerhati
2.     Kata umum dan kata khusus
a.     Makna umum adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang luas dari kata yang lain.
b.     Makna khusus adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang sempit dari kata yang lain.
Contoh kata umum dan kata khusus
Kata umum                 Kata khusus
- Ikan                           - Gurame, Lele, Sepat, Tuna, dll.
- Bunga                       - Mawar, Melati, Anggrek, dan Dahlia
3.     Kata makna bersinonim
Kata bersinonim adalah kata yang bentuknya berbeda namun pada dasarnya memiliki makna yang hampir mirip atau serupa. Dalam penggunaan kata besinonim harus memilih kata yang tepat  dalam kalimat ragam formal. Karena meskipun bersinonim pada dasarnya memiliki perbedaan dalam konteks penggunaannya.
Contoh kata bersinonim :
- Cerdas           = Cerdik, Hebat, Pintar.
- Besar             = Agung, Raya
- Mati              = Mangkat, Wafat, Meninggal
- Ilmu              = Pengetahuan
- Penelitian       = Penyelidikan


4.      Kata baku dan non-baku
Kata baku dan non-baku dapat dilihat berdasarkan beberapa  ranah seperti :
a.     Ranah finologis
Kata baku yang memiliki kata non-baku karena :
-          Penambahan fonem
Kata baku                    Kata non baku
Imbau                          Himbau
Andal                          Handal
Utang                          Hutang
-          Pengurangan fonem
Kata baku                    Kata non-baku
Terap                           Trap
Terampil                      Trampil
Tetapi                          Tapi
Tidak                           Tak

-          Pengubahan fonem
Kata baku                    Kata non-baku
Telur                            Telor
Ubah                           Obah
Tampak                       Nampak

5.   Dalam penggunaan kata depan dan kata penghubung  harus digunakan secara tepat, yang sesuai dengan jenis keterangan dalam jenis kalimat :
a.     Untuk keterangan tempat di gunakan kata di, ke, dari, di dalam, pada.
b.     Untuk keterangan waktu digunakan kata pada, dalam, setelah, sebelum, sesudah, selama.
c.      Untuk keterangan alat di gunakan kata dengan.
d.     Untuk keterangan tujuan digunakan kata agar, supaya, untuk, bagi, demi.
e.      Untuk keterangan cara digunakan kata dengan, secara, dengan cara, dengan jalan.
f.       Untuk keterangan penyerta di gunakan kata dengan, bersama, beserta.
g.     Untuk keterangan perbandingan atau kemiripan digunakan kata seperti, bagaikan,laksana.

6.   Penulisan  kata secara benar
Dalam kalimat ragam formal, harus menuliskan kata secara benar seperti :
- Penulisan kata depan di yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
- Penulisan kata depan ke yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
- Penulisan kata depan dari yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
Selain  kesalahan penulisan kata depan (preposisi), sering pula kesalahan sebagai    berikut :
-          Penulisan partikel non seperti pada contoh :
Penulisan yang benar              Penulisan yang salah
Non-Indonesia                        Non Indonesia
Non-batak                               Non batak
Nonformal                               Non formal, non-formal

-          Penulisan partikel sub seperti pada contoh :
Penulisan yang benar              Penulisan yang salah
Subbab                                    Sub bab, Sub-bab
Subbagian                               Sub bagian, Sub-bagian

-          Penulisan pertikel per seperti pada contoh :
Penulisan yang benar              Penulisan yang salah
per jam                                    Perjam
per bulan                                 Perbulan
per tahun                                 Pertahun

-          Penulisan kata per
Kata per yang memiliki arti ‘menjadikan lebih’ atau memperlakukannya sebagai’
Penulisan yang benar  Penulisan yang salah
Perbesar                                   Per besar
Persingkat                               Per singkat

Dalam bahasa indonesia, kata “ pun “ yang mempunyai arti :
”juga” harus di tuliskan secara terpisah dengan kata yang di ikutinya
Penulisan yang benar              Penulisan yang salah
Aku pun                                  Akupun
Sedikit pun                              Sedikitpun

Kata pun pada kata tertentu yakni ungkapan yang sudah padu harus di tuliskan serangkai   dengan kata yang diikutinya.
Penulisan yang benar              Penulisan yang salah
Meskipun                                Meski pun
Bagaimanapun                       Bagaimana pun

Dalam kata pasca, bentuk terikat pasca di tulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Penulisan yang benar              Penulisan yang salah
Pascasarjana                            Pasca sarjana, Pasca-sarjana
Pascapanen                              Pasca panen, Pasca-panen
Selain itu dalam penulisan awalan tertentu, seperti :
Penulisan yang benar              Penulisan yang salah
Betolak belakang                    Betolaktolang
Mendarah daging                    Mendarahdaging
7.   Homonim, Homofon, Homograf
a.     Homonim
Homo artinya sama, nym berarti nama, jadi homonim adalah sama nama, sama bunyi tetapi beda makna, contoh : bandar sama dengan pelabuhan, dan dan pemegang uang dalam perjudian.
b.     Homofon
Bunyi atau suara yang mempunyai sama, berbeda tulisan dan berbeda makna contoh :
Bank : tempat menyimpan uang
Bang : panggilan untuk kakak laki-laki
c.      Homograf
Sama tulisan, berbeda bunyi dan berbeda makna, contoh :
·        Ular kobra itu bisanya mematikan.
·        Aku bisa memastikan ayah tidak akan marah jika aku telat pilang karena latihan.
8.   Kata abstrak dan kata konkrit
Kata abstrak berupa konsep
Contoh : kebenaran pendapat itu begitu meyakinkan.
Kata kponkrit berupa objek yang dapat diamati
Contoh : angka kelulusan SMA tingkat sumatera barat mengalami kenaikan hingga sembilan persen. Membicarakan membahas, mengkaji.

9.   Penentuan batas kata
Dalam ilmu linguistik barat ada minimal lima cara dalam menentukan batas-batas kata:
a.     Pada jeda
Seorang pembicara disuruh untuk mengulang kalimat yang diberikan secara pelan, diperbolehkan untuk beristirahat dan mengambil jeda. Sang pembicara maka akan cenderung memasukkan jeda pada batas-batas kata. Namun metoda ini tidaklah sempurna: sang pembicara bisa dengan mudah memilah-milah kata-kata yang terdiri dari banyak suku kata.

b.     Keutuhan
Seorang pengguna disuruh untuk mengucapkan sebuah kalimat secara keras dan lalu disuruh untuk mengucapkannya lagi dan ditambah beberapa kata.

c.      Bentuk bebas minimal
Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Leonard Bloomfield. Kata-kata adalah leksem, jadi satuan terkecil yang bisa berdiri sendiri.

d.     Batas fonetis
Beberapa bahasa mempunyai aturan pelafazan khusus yang membuatnya mudah ditinjau di mana batas kata sejatinya. Misalnya, di bahasa yang secara teratur menjatuhkan tekanan pada suku-kata terakhir, maka batas kata mungkin jatuh setelah masing-masing suku-kata yang diberi tekanan. Contoh lain bisa didengarkan pada bahasa yang mempunyai harmoni vokal (seperti bahasa Turki): vokal dalam sebagian kata memiliki "kualitas" sama, oleh sebab itu batas kata mungkin terjadi setiap kali kualitas huruf hidup berganti. Tetapi, tidak semua bahasa mempunyai peraturan fonetis seperti itu yang mudah, kalaupun iya, pada bahasa ini ada pula perkecualiannya.

e.      Satuan semantic
Seperti pada banyak bentuk bebas yang minimal yang disebut di atas ini, metode ini memilah-milah kalimat ke dalam kesatuan-kesatuan semantiknya yang paling kecil. Tetapi, bahasa sering memuat kata yang mempunyai nilai semantik kecil (dan sering memainkan peran yang lebih gramatikal), atau kesatuan-kesatuan semantik yang adalah kata majemuk.
Dalam prakteknya, para ahli bahasa menggunakan campuran semua metode ini untuk menentukan batas kata dalam kalimat. Namun penggunaan metode ini, definisi persis kata sering masih sangat sukar ditangkap.